F9

Sudah tau ratingnya rendah. Sudah tau filmnya gak masuk di akal. Sudah tahu gak wajar. Sudah tau banyak kebetulannya. Tapi kok masih ditonton? Penasaran?

Kemarin memang lagi gabut. Butuh refreshing. Butuh hiburan. Satu-satunya hiburan ya pergi ke bioskop itu. Satu-satunya film yang bisa menghibur ya F9: The Fast Saga itu. Jadilah pergi ke sana. Ke XXI MM itu. Untungnya dapat yang jam 12.25, jadi bisa zuhuran dulu. Untungnya dapat teather 1, yang layarnya paling besar.

Jadinya yang dinikmati bukan ceritanya, bukan juga visual efeknya. Tapi sound system-nya. Yang jedar-jeder itu. Adegan yang aneh-aneh, yang gak masuk akal itu buat lucu-lucuan aja. Khususnya adegan mobil terbang ke luar angkasa itu.

Enak ya bikin film kayak gitu. Ibaratnya, kalau mau basah ya nyebur aja sekalian. Daripada dibikin setengah-setengah, nanggung. Apalagi Fast and Faurious Saga sudah sampai yang ke-9. Butuh ide cerita apa lagi? Biar nggak terkesan kehabisan ide dibuat saja adegan-adegan gak masuk akal itu. Toh, sebelum-sebelumnya juga pernah meski tidak seekstrim F9.

Berbanding terbalik dengan menulis. Meskipun yang ditulis itu fiksi. Jalan cerita dan adegan harus masuk di akal. Kalau pun ada kebetulan, harus ada sebab-akibatnya. Pembaca novel fiksi itu sering kali lebih pintar. Kalau dirasa tidak masuk akal, bisa ditinggalin begitu saja. Jangankan yang tidak masuk akal, ada typo sedikit saja bisa jadi secuil daging terselip di gigi.

Leave a Reply