Kabar Sedih

Ternyata, sudah sampai sepekan saya belum menulis lagi. Alasannya masih sama: sibuk nulis dua cerbung itu.

Dalam rentang waktu satu pekan itu banyak kabar dan peristiwa yang menyedihkan. Diantaranya, jumlah kematian karena covid, dari 1.400-an, naik ke 1.500-an, sampai akhirnya kemarin pecah rekor lagi: 2.069, sehingga total yang meninggal jadi 86.835.

Satu kabar sedih lainnya, guru ngaji saya meninggal. Entah meninggal karena covid atau bukan.

Sebelumnya saya hanya kenal namanya Ibu Ibnu. Ibnu itu suaminya. Yang sudah meninggal lebih dulu. Saya baru tahu nama aslinya setelah diumumkan di masjid. Yang bermarga Siregar.

Tempat ngaji saya namanya Madrasah Istiqomah. Sama dengan nama masjidnya. Itulah masjid satu-satunya yang dekat rumah sebelum masjid Al-Muhajirin berdiri. Hampir semua anak-anak di zaman saya mengaji di sana. Saya pernah ikut lomba cerdas cermat antar madrasah di tingkat kabupaten itu pun wakil dari Madrasah Istiqomah. Dan kalah.

Ibu Ibnu itu yang mengajar ngaji anak-anak yang baru masuk. Yang baru mulai dari huruf hijaiyah. Tapi saya lebih sering diajar Ibu Pohan. Ibu Pohan sudah lama meninggal. Seingat saya, saya mulai ngaji di sana sejak kelas 3 SD. Kelasnya dimulai sore, setelah sholat ashar. Waktu bangunan madrasahnya belum jadi, kami mengaji di masjidnya. Ada satu anak, atau bukan anak lagi karena usianya dua atau tiga tahun lebih tua. Kalau tidak salah namanya Feri. Feri kalau mengaji suaranya ngebas. Saya pikir, saya lebih banyak bermainnya di sana ketimbang mengajinya.

Tentunya, kabar sedih lainnya jauh lebih banyak, yang lebih didominasi kematian karena Covid. Sementara, kabar mundurnya Komisaris BRI yang sekaligus Rektor UI itu entah bisa dibilang kabar bagus atau tidak. Pasalnya ada yang bilang, yang bermasalah itu di jabatan gandanya Rektor UI, tapi kok yang mundur malah Komisaris BRI-nya.

Leave a Reply